sory admin offline

Bawa Klien ke Mal dan Kafe agar Tidak Tegang





Amarah adalah cerminan emosi negatif yang cenderung merusak. Lewat amarah, seseorang bisa menjadi depresi hingga akhirnya berniat bunuh diri. Menurut Irma Rahayu, ada tiga hal mendasar yang berkaitan dengan depresi. Yakni, uang, kesehatan, dan relasi.

PERNAH MAU BUNUH DIRI: Irma Rahayu sebelum mendalami Emotional Healing.

”Hanya tiga hal yang bikin orang mau bunuh diri. Sekarang kalau sakit berkepanjangan, ya depresi. Diputusin pacar atau mengalami kebangkrutan juga depresi sampai mau bunuh diri.” jelas Irma ketika ditemui di Wisma Nusantara, Jakarta, Rabu lalu (11/1).
Menurut Irma, amarah adalah bagian dari emosi, yakni emosi negatif. Jika hal tersebut dibiarkan, jelas akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Irma paham betul akan seluk beluk emosi dan dampaknya. Hampir setiap hari Irma bergelut dengan orang-orang yang bermasalah dengan emosi. Mulai suami yang gemar melakukan kekerasan kepada istri sampai pengusaha yang kerap mengalami kebangkrutan hingga ingin bunuh diri. Menurut Irma, semua persoalan tersebut bersumber dari ketidakseimbangan pengelolaan emosi.
Ya, Irma adalah pakar emosi. ”Tapi, saya lebih seneng disebut soul healer ketimbang pakar,” jelas perempuan berjilbab itu.
Lewat terapi Emotional Healing (EH), perempuan 37 tahun itu membantu orang mengelola emosi. Menurut dia, ketidakmampuan mengelola emosi bisa menimbulkan kehancuran dalam hidup. Dia menguraikan, emosi berupa amarah, baik yang diluapkan maupun dipendam, sama bahayanya. ”Contohnya, kenapa ada orang yang sabar dan pendiam terkena penyakit tekanan darah tinggi. Ada juga yang gemar marah-marah seenaknya, akhirnya kena batunya. Jadi sama-sama bahaya,” jelasnya.
Karena itu, kata dia, segala bentuk emosi tersebut harus diakui keberadaannya. Menurut Irma, hal tersebut cukup susah. Sebab, kebanyakan orang sudah terbiasa menyangkal kebenaran yang ada dalam dirinya. Jika orang tersebut sudah mampu mengakui rasa marahnya, Irma akan membantu untuk menelusuri akar permasalahan yang menjadi sumber amarahnya.
”Kalau sudah sampai tahap itu, saya akan minta dia memaafkan atau tahap forgiveness. Jadi akhirnya dia bisa marah, tapi pada waktu yang tepat dan caranya baik. Itu yang dinamakan anger management,’’ urainya.
Perempuan kelahiran Bandung, 28 Oktober, tersebut mengungkapkan, awalnya tidak mudah membimbing para klien untuk mengenali dan akhirnya mengelola rasa marah mereka. Namun, itu menjadi tantangan tersendiri baginya. Apalagi, klien yang datang kepadanya berasal dari berbagai kalangan dan latar belakang.
Agar suasana terapi tidak menegangkan, Irma biasanya mengajak klien bertemu di mal atau kafe. ”Jadi, dia lebih rileks dan nggak kelihatan kayak orang lagi depresi. Kan kalau orang denger kata terapi, itu biasanya langsung serem bayangannya,” ungkapnya.
Irma mencontohkan klien yang bermasalah dengan kesehatan. Ada seorang klien yang mengalami kesulitan mendapat momongan karena ada kista dalam rahimnya. Dia marah dan kecewa dengan kondisi tersebut. Dia lantas datang kepada Irma. Keduanya pun bertemu dan ngobrol di sebuah kafe selama dua jam. ”Saya tanya sama dia banyak hal, termasuk hubungan sama ibunya. Awalnya dia menyangkal punya amarah sama ibunya karena dia merasa deket banget sama ibunya. Tapi, setelah aku tanya-tanya lagi, dia ngaku dulu sering melihat ibunya marahin bapaknya dan sebenarnya dia nggak terima itu. Otaknya ngelihat bapaknya digitukan nggak apa-apa, tapi hatinya nggak. Itu contoh amarah yang terpendam,” jelas Irma.
Setelah klien mengakui adanya rasa marah kepada ibunya, Irma membimbing perempuan itu untuk memaafkan sang ibu. Irma juga meminta kliennya mengikhlaskan segalanya kepada Tuhan.
”Alhamdulillah, dua bulan setelah itu kistanya hilang, rahimnya sehat, dan baru saja dia lahiran (melahirkan) di Semarang,” katanya, lantas tersenyum.
Soal klien yang akrab dengan kekerasan, Irma menuturkan bahwa dirinya pernah menangani suami yang kerap melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sang suami, kata Irma, gemar memukuli istri hanya karena persoalan sepele. Sang istri yang tidak tahan atas perlakuan suaminya mengadu kepada Irma dan menjalani terapi. Seperti kasus-kasus sebelumnya, Irma akan menelusuri penyebab kemarahan sang istri. Dia tidak hanya mengacu kepada kemarahan klien pada masa kini, tapi juga di masa lalu yang bahkan sang klien tidak menyadari telah memendam amarah selama itu.
”Saya telusuri, ternyata bapaknya si istri ini dulu juga begitu kepada ibunya. Suka mukul. Akhirnya tanpa sadar tertanam dalam pikiran bawah sadarnya kalau sosok seorang suami itu ya seperti bapaknya itu. Makanya dia menarik orang yang serupa dengan bapaknya. Setelah dia sadar, dia nggak percaya, tapi akhirnya mau mengakui bahwa dia marah sama bapaknya,” jelasnya.
Setelah menjalani tiga kali sesi terapi, sang istri mulai bisa mengendalikan emosi. Dia lebih tenang dalam menghadapi kemarahan suaminya. Dia juga lebih khusyuk dalam berdoa. Dulu, setiap sang suami naik pitam, dia akan ketakutan dan panik. Akibatnya, segala hal yang dia kerjakan menjadi berantakan. Sang suami pun punya alasan untuk memarahi dan memukul istrinya. Namun, melihat perubahan sang istri yang lebih tenang dan terkontrol, sang suami mulai bertanya-tanya. Sang istri pun mengungkapkan, dirinya mengikuti terapi emotional healing. ”Lalu, suaminya ikut terapi juga. Dia belajar mengelola emosinya dan sekarang, alhamdulillah, si suaminya berhenti mukul dan mereka makin mesra,” ungkapnya.
Ada lagi contoh juga, klien Irma yang mengalami masalah keuangan. Irma menceritakan, ada kliennya, seorang pengusaha, yang mengalami kebangkrutan luar biasa. Dia ditipu rekan-rekan bisnisnya hingga Rp10 miliar. Selain bangkrut, sang klien terancam bercerai dengan sang istri gara-gara kondisi keuangannya yang karut-marut. Dalam kondisi seperti itu, dia mendatangi Irma. Pada pertemuan pertama, si klien mengaku sangat marah kepada rekan-rekannya yang telah menipu dirinya. Namun, Irma kembali menekankan kepada akar kemarahan si klien sendiri. ”Kalau dia tidak tahu apa akar permasalahannya dari awal, ya dia akan ketemu temen-temen yang sama dan akan nipu dia lagi,” katanya.
Setelah beberapa kali mengikuti sesi terapi secara personal, Irma mengetahui bahwa si klien sangat membutuhkan akan pengakuan. Pengakuan itu didapat dari penghargaan rekan-rekannya yang justru menipu dia. ”Dia ini mudah memberikan pinjaman modal kepada teman-temannya karena dia membutuhkan pengakuan. Awalnya dia deny (menyangkal, Red), tapi lama-lama dia sadar sendiri dia memang seperti itu,” urainya.
Tidak berhenti sampai di situ, Irma terus mengejar alasan mengapa kliennya sangat membutuhkan pengakuan. Ternyata pengakuan tersebut ditujukan kepada ayahnya yang seorang jenderal .”Jadi, dia itu butuh diakui sama bapaknya kalau dia juga bisa berhasil dan jadi hebat. Tapi, dia secara nggak sadar marah sama bapaknya karena waktu kecil pernah melihat perselingkuhan bapaknya. Itu semua berkesinambungan. Setelah tujuh kali sesi terapi, dia akhirnya bisa tenang. Alhamdulillah, sekarang bisnisnya udah sukses. Dia nggak jadi cerai. Sekarang sudah punya beberapa restoran,” paparnya.
Mengatasi berbagai jenis klien, Irma mengaku sudah biasa menjadi pelampiasan kemarahan. Irma justru sangat menikmati pekerjaannya sebagai soul healer atau fasilitator emotional healing. ”Sebab, aku pengin dakwah ya. Sebab, kita kan punya kewajiban menyampaikan meskipun hanya satu ayat,” katanya.
Namun, siapa sangka keputusan Irma untuk menekuni dunia emosi manusia justru dipicu dari pengalaman pahit masa lalunya. Sebelum menemukan emotional healing, Irma sempat kehilangan arah dalam hidupnya. Sekitar 1998, anak pertama di antara tiga bersaudara itu mengaku ateis atau tidak mengakui keberadaan Tuhan. Sebab, apa yang dia inginkan sudah terwujud. ”Waktu itu aku merasa bisa melakukan dan mendapat apa pun tanpa berdoa,” kenangnya.
Tapi, semua itu berubah. Dalam waktu bersamaan, sarjana programming computer AMIK Andalan Jakarta itu mengalami cobaan beruntun. Mulai pernikahannya yang hancur, kebangkrutan usaha, hingga menderita penyakit yang cukup serius. Bahkan, anak pertamanya meninggal dalam kandungan. Dalam kondisi tersebut, sang suami meninggalkan Irma. Dia pun semakin goyah.
Ketika mencoba bangkit dari kegagalannya dengan bekerja di sebuah perusahaan, Irma kembali jatuh. Baru tiga bulan bekerja, dia sudah dipecat. Dalam titik terendah tersebut, Irma akhirnya memutuskan bunuh diri. Tidak hanya sekali, Irma mencoba bunuh diri beberapa kali. ”Mulai pakai senjata tajam, menenggelamkan diri, hingga menabrakkan diri, semua pernah aku coba. Tapi, kok ya aku nggak mati-mati ya” ujarnya.
Dalam kondisi terpuruk tersebut, Irma malah menantang Tuhan. ”Ya istilahnya, aku bilang sama Tuhan. Oke, aku turuti semua perintah-Mu dan kujauhi larangan-Mu kalau memang Kau punya kuasa untuk menolongku,” tuturnya.
Dari situ Irma mulai melakukan pencarian. Sesuai dengan janjinya kepada Tuhan, dia benar-benar menjalankan perilaku takwa kepada Yang Mahakuasa. Kehidupannya pun mulai berangsur-angsur membaik. Banyak hal luar biasa terjadi pada hidupnya. Irma pun memutuskan untuk berjilbab. Tidak hanya itu, selama itu dia rajin mengikuti sejumlah pelatihan mental spiritual di beberapa daerah.
Dari rentetan pengalamannya tersebut, Irma pun sampai pada suatu realitas bahwa jika kehidupan dihadapi dengan emosi yang tidak stabil atau emosi negatif yang berlebihan, itu hanya akan merugikan diri sendiri. Berawal dari pemahaman tersebut, Irma yang pernah menimba ilmu kepada Erbe Sentanu itu mulai mencari metode terapi untuk mengatasi persoalan-persoalan manusia. ”Awalnya trial and error saya lakukan sama temen saya, Erwin. Kami mencari ramuan yang pas untuk persoalan emosi ini. Akhirnya ketemu emotional healing ini,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, Irma memanfaatkan situs jejaring sosial Facebook. Dia membuat akun Facebook Emotional Healing Indonesia (EHI). Dalam akun tersebut, Irma meng-upload beberapa tulisan soal pengalaman pribadinya. Ternyata respon yang didapat luar biasa. Irma pun memutuskan mendalami bidang tersebut secara profesional. Bahkan, dia sudah menerbitkan sebuah buku berjudul Emotional Healing Therapy. Saat ini klien EHI sudah mencapai 500 orang yang tersebar di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Bali, dan Surabaya. (c4/nw)



Posted by on 16 Jan 2012. Filed under News Update. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

*
= 3 + 2

Photo Gallery

Untitled Document

Copyright © 2011 PT. Jawa Pos National Network

by Donie & Rahadiana